||   What You Give Is What You Will Get...
Saturday, February 21, 2009
Wakakaka, baru aja pindah ke facebook Di Jawa Pos ada info penggemar facebook rentan penyakit berbahaya di sini. Parah.

Hasil Riset Pakar Inggris

LONDON - Kebiasaan memperkaya hubungan sosial via situs pertemanan perlu diwaspadai. Hasil riset pakar dari Inggris, jika para pencinta laman jaringan pertemanan di dunia maya -misalnya, Facebook (FB) ataupun Friendster, itu sampai mencandu, dampaknya bisa buruk bagi kesehatan. Bergaul di kehidupan nyata tetap lebih baik.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Biologist, jurnal terbitan The Institute of Biology, Inggris, Dr Aric Sigman memaparkan bahwa kebiasaan bergaul via situs pertemanan berpotensi mengurangi sosialisasi antarmanusia di kehidupan nyata. Itulah kemudian yang berdampak pada sisi-sisi biologis manusia. Di antaranya, mengubah alur kerja gen, menghambat respons sistem imun, tingkat hormon, dan fungsi arteri serta memengaruhi kondisi mental. Buntutnya, hal tersebut potensial meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (semacam kelainan jiwa).

''Situs jaringan pertemanan memang menghiasi kehidupan sosial kita. Namun, hasil temuan kami berbeda. Ini bukan menjadi alat untuk mempertinggi, malah makin menggantikan (hubungan sosial),'' kata Sigman seperti dilansir BBC kemarin (19/2).

Sigman sudah lama memperhatikan gejala sistem sosial seperti itu, khususnya di Inggris yang menjadi lokasi penelitiannya. Dari pengamatannya sejak 1987, interaksi manusia face to face kian menurun. Apalagi sejak media elektronik berkembang pesat dan mengurung banyak manusia dalam kesenangan pribadi dan individual. E-mail ataupun SMS lebih disukai sebagai alat interaksi pengganti diri.

''Perubahan mendasar yang kini mendera warga Inggris adalah makin berkurangnya jumlah menit per hari untuk berinteraksi dengan manusia lain,'' jelas Sigman.

Hal utama, ujar Sigman, penggunaan media-media elektronik untuk berkomunikasi dengan sesama mengurangi makna penting komunikasi itu sendiri. Kemampuan sosialisasi manusia makin tergerus, begitu juga dalam memahami bahasa tubuh lawan bicara. ''Ini mungkin mekanisme evolusioner yang menunjukkan kepada kita bahwa hadir bersama dalam satu wilayah geografis itu lebih bermanfaat,'' ungkapnya. Sigman menandaskan, ''Pasti ada perbedaan antara kehadiran nyata dan penampakan virtual.''

Dia sekaligus memperkirakan, hingga dua dekade mendatang, intensitas percakapan antara dua manusia atau berkelompok akan makin berkurang. ''Ini bukan berarti saya tidak gaul teknologi, tapi tujuan teknologi kan seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan hubungan sosial kita,'' katanya. (ape/ami)

Sumber: Jawa Pos

Labels:

 
posted by tc-a at 1:37 PM | 1 comments
Tuesday, February 10, 2009
Setelah berusaha keras ngumpulin duit lagi, akhirnya kubisa memiliki gadget idamanku: kamera digital.
Berdasarkan review www.digitalcamera-hq.com, pilihanku jatuh pada Canon Powershot SX10 IS ini: 10 MP, 20x optical zoom, 2.5-inch swivel-screen LCD, 28-56mm wide-angle lens dengan Image stabilization. Cukup dan praktis buatku.
Buatku, ini adalah gadget ketiga yang kubeli setelah HP Motorola L7 dan notebook ACER 4520. Dengan kamera ini, aku bisa merekam momen-momen di sekitarku yang begitu sayang bila terlewatkan. Dari situ, ada banyak pelajaran hidup yang bisa kuabadikan. Dan rencanaku, bila sedang pergi berkunjung ke suatu kota, aku akan mengambil foto teman-temanku yang ada di sana, khususnya teman maya yang belum pernah bertemu muka sebelumnya. Semoga bisa terwujud. Amin.

Labels:

 
posted by tc-a at 10:53 AM | 1 comments
Monday, February 09, 2009

Tak terasa, ACER 4520 ini menemaniku setahun penuh. Makin banyak aplikasi dan file, makin lemot. Pengen upgrade, apa daya kantong tak sampai. Y__Y

Labels:

 
posted by tc-a at 10:32 AM | 2 comments
Benar-benar aneh takdir ini.

Beberapa hari lalu aku meng-klik link blog itu lagi: blog Iyur, seorang yang pernah sangat kucintai, dan mungkin orang yang pernah paling kucintai hingga kini. (wakakaka melankolis)

Astaga (kata ini sebenarnya dari Astaghfirullah), ternyata sudah banyak update posting semenjak yang terakhir dulu kubuka.

Olala (ini mungkin dari O, laa ila haillallah). Kukira blog itu tenggelam seiring dengan kandas-nya hubungan kami. :))

Dan ternyata dia punya blog satu lagi yang luput dari perhatianku: Pesek

Dari update-update itulah aku baru tahu kehidupan sehari-harinya, dan kabar keluarganya yang di Aceh yang terlanda tsunami. Bagaimanapun juga, aku turut berempati.

Huffffhhhh....

Waktu itu.... Aku baru saja menyadari kalau hubungan kami tak bisa dipertahankan lagi ketika tragedi tsunami itu terjadi. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa kujawab mengenai mengapa dia memutuskanku begitu saja, aku masih sempat berdoa untuk keselamatannya, di sini, walaupun sudah tak tahu di mana dia berada. Dan ternyata doa-ku masih didengar oleh Tuhan.

However, pengabulan doa ini berbentuk sangat aneh! Tuhan mengabulkan doa ini dengan menghancurkan harapan-ku yang satunya: menjadi pasangan jiwa-nya.

Memang demikianlah manusia, terlalu banyak doa dan harapan, sehingga untuk mengabulkan satu permohonan akan berakibat membatalkan permintaan lainnya.

Ya, beruntunglah dia menikahi Erfan waktu itu.

Tapi takdir sebenarnya tak mengenal kata "mungkin" dan "andai saja". Bisa saja aku berandai-andai: "Kalau-lah saja dia setia pada janjiku yang memintanya menunggu 5 tahun, mungkin tergulung ombak takdir itu juga." Namun, hal yang akan terjadi adalah "mungkin saja tsunami itu tak terjadi kalau begini dan begitu."

Semuanya lurus berjalan ke depan, menggilas apa saja di depannya. Semuanya pasti karena telah terjadi dan kadang terasa sangat pedih.

Sama dengan di perasaannya, di satu sisi dia mendapatkan apa yang dia idam-idamkan, suami pilihannya, di satu sisi dia kehilangan keluarganya.

Sama dengan yang kurasakan, saat dia selamat tapi menjadi milik orang lain.

Semua memang hak-Nya. Permainan-Nya.

What I am doing now is just enjoying whatever God does to me.

Hidup hanya Dia berikan sekali. Aku akan coba berbuat baik menurut versi-ku dan tidak menyakiti hati orang lain.

Semoga dengan itu didapati ketentraman dalam hidup manusia-manusia di sekitarku. Amin.

Semoga seorang teman yang baru saja menghubungiku lewat blog ini, mendapatkan apa yang dia idamkan. Dia adalah pacar Yuni dulu. Yuni adalah sahabat Iyur. Jadi kami memacari gadis maya dari Aceh. Kadang memang ada orang yang setia pada janji. Namun banyak yang punya pertimbangan lain. Aku masih percaya: apa yang kita lakukan, itulah yang akan kita dapat.

Labels:

 
posted by tc-a at 8:24 AM | 1 comments
Monday, January 12, 2009
Kalau ada orang marhaen yang kuketahui, itu adalah Pak Dhe-ku. Semenjak Orde Lama dulu dia setia pada PNI. Pada saat Orde Baru dan Reformasi sekarang ini, dia setia pada Mbak Mega sebagai penerus Soekarno yang diidolakannya. Mungkin inilah setia yang sejati. Tanpa pamrih sama sekali. Benar-benar militan. Meski tidak langsung bekecimpung di politik, dia tahu nama-nama seperti Soeryadi, Pramono Anung, Cahyo Kumolo, Pak Kwik, atau nama-nama DPRD PDI-P di daerahnya. Seperti sudah mendarah daging dan dijiwainya. Coba kamu beri saja dia jas berwarna merah, sudah tentu girang bukan kepalang. Sedemikian itulah fanatiknya. (Kalau sampai temanku, Mas Yudhi, bertemu dengan orang seperti Pak Dhe-ku ini, sudah pasti dia muntah-muntah karena dia anggota ABM – Asal Bukan Mega).

Di dinding rumahnya, terpampang poster PDI-P dan Mbak Mega. Usang, sudah kehitaman. Tetapi jangan dibayangkan rumah tembok. Ukurannya kira-kira hanya 2 x 2 meter. Dindingnya gedhek (dinding anyaman bambu) yang sudah berlubang-lubang. Ada beberapa karakter wayang (Dewa Ruci, Kresna, Arjuna dan satu lagi aku lupa), sebuah sendok, dan irus (alat penciduk untuk menggoreng kopi) yang tersisip di gedhek itu. Atapnya seng yang pada waktu siang terik terasa panas menyangat. Di dalamnya ada satu lincak (tempat tidur dari bambu) beralas tikar. Di atasnya ada sebuah kardus berisi harta bendanya, antara lain baju-baju pemberian orang. Ketika kemarin aku berkunjung ke rumahnya dia bercerita tentang hartanya di dalam kardus itu. Dulu ia menyimpan baju-baju baru dengan diberi kapur barus agar tidak dimakan ngengat karena dia merasa sayang untuk memakainya. Hanya bila ada acara yang menurutnya spesial dia akan memakainya. Ndilalah, ketika dia ingin memakainya ke hajatan, dia mendapati baju-baju barunya berlubang-lubang tak karuan. Ternyata ngengat bisa dihindari, tapi tikus-tikus liar tak bisa dicegah dengan itu. Disimpan sayang malah hancur. Konyol. Tapi dengan kekonyolan takdir seperti itulah orang-orang seperti Pak Dhe bisa tertawa.

Di sebelah lincak tempat tidur, ada sebuah lincak kecil tempat perabotan rumah-nya. Di situ ada sebuah teko hitam penuh angus (jelaga), dua piring, dua kreweng (penggorengan kopi), dua gelas, dan dua kompor. Yang satu masih terlihat baru. Katanya dia baru saja membeli kompor baru lagi karena kekesalannya pada Kepala Desa-nya pada waktu pembagian kompor elpiji.

Ceritanya begini.

Waktu itu ada pembagian kompor elpiji untuk seluruh warga. Karena dia merasa warga desa itu juga, dia meminta bagian. Rupanya untuk mendapatkan kompor elpiji itu setiap orang harus mempunyai Kartu Keluarga. Dia tentu saja tidak mempunyainya karena dia duda cerai yang kini tinggal sendiri di sebuah rumah, kalau tidak tega menyebutnya gubuk. Dia benar-benar gusar, katanya dia tinggal di desa itu jauh sebelum kepala desa itu ada (umurnya memang sudah tua), tidak perlu lagi diragukan kewargadesaannya di situ. Tetapi Kades tidak bisa berbuat apa-apa. Jatah kompor elpiji hanya untuk orang yang punya KK. Pak Dhe-ku hanya bisa bersungut-sungut sambil pergi. Orang kecil hanya bisa sebatas bersungut-sungut. Tidak bisa lebih. Kalaulah ada rejeki tiban (jatuh) dari atas, baru bisa berbuat lebih. Seperti rejeki yang diterima Pak Dhe yang dengannya akhirnya dia bisa membeli kompor baru sebagai balas dendam sakit hatinya tidak mendapat jatah kompor elpiji. Suatu hari ada orang punya hajat datang, dan meminta Pak Dhe menjadi dukun hajatannya.

Ya, Pak Dhe memang juga seorang dukun. Mungkin itulah keadilan takdir memberinya doa menyibak mendung (katanya sendiri, aku sendiri belum pernah melihatnya), yang dengan itu dia bisa bertahan hidup, khususnya di musim kawin. Di luar musim itu, dia menggantungkan hidupnya di Sungai Brantas yang mengalir di barat desa. Dengan mengambil pasirnya, se-cikrak (alat pengeruk tradisional terbuat dari anyaman bambu) demi se-cikrak dia kumpulkan, dijual seharga tujuh puluh ribu tiap satu rit engkel (kendaraan truk bermesin diesel buatan orang-orang Kediri dan sekitar). Aku tak bertanya berapa hari untuk bisa mengumpulkan 1 rit. Akhir-akhir ini dia harus berjuang mempertahankan daerah penggaliannya dari orang-orang pemilik modal yang mempergunakan mesin diesel untuk melakukan penambangan besar. Kata Pak Dhe, mereka adalah para kapitalis yang membunuh orang-orang marhaen seperti dirinya dengan diesel-diesel itu. Orang marhaen itu, kata Pak Dhe, bukan hanya PDI-P seperti dirinya, tetapi juga orang Golkar, orang PPP dan semua partai mempunyai kader marhaen seperti dirinya.

Dari Brantas, dia juga mengais uang dengan membawa seember batu-batu kali tiap kali pulang. Di rumahnya dia punya sebuah palu besi dan sebuah alat berujung karet melingkar (sepotong karet bekas tambang timba sumur) yang dipakukan pada pegangan kayu. Dengan itu tiap seember batu yang dia bawa pulang di-thithik (dipecah). Jadi pemecah batu. Itu dilakukannya kalau punya energi lebih. Ada satu lagi yang bisa dilakukannya di sungai Brantas itu. Di gisik-nya (hamparan terdiri dari pasir dan tanah luas yang tercipta di tengah-tengah atau pinggiran sungai karena melimpahnya pasir dari Gunung Kelud), dia menanam tumbuh-tumbuhan yang bisa dijual, entah itu kayunya, daunnya, atau buahnya. Kata dia, lahan itu bukan tanah yang kena pajak, dan bebas siapa saja memetik hasil dari tanah Tuhan itu. Di atas rumahnya tergantung seikat jagung untuk benih sewaktu-waktu dia ingin menanamnya di situ.

Di antara kedua lincak dalam rumahnya itu ada jarak sekitar 40 cm untuk meletakkan sebuah sepeda jengki pemberian orang sebagai kendaraannya bila berpergian lumayan jauh. Dia memang sudah cukup tua untuk berpergian jauh. Tapi dulu ketika muda, ke Banyuwangi pun dia sanggup berjalan. Katanya nglakoni (menjalankan sesuatu). Tapi kupikir karena jaman dulu tidak ada kendaraan sehingga disebut nglakoni (melakukan perjalanan). Entah interpretasiku ini benar atau tidak. Kata dia, sudah tiga tahun ini dia juga nglakoni tidak makan nasi dan daging, hanya umbi-umbian, pisang dan tahu. Bukan tahu gembos tapi harus tahu mentah karena giginya sudah sulit mengunyah. Dia bercerita konyol lagi sambil tersenyum-senyum ketika di sebah warung dia tercekik tahu gembos yang ulet itu dan tak bisa menelan sehingga membuat seisi warung geger. Apalagi yang dia perlukan kalau kekonyolan-kekonyolan kecil seperti ini membuat bahagia?

Ketika kami sekeluarga menawarkan membuat rumah yang layak untuknya, dia bilang, yang penting cukup untuk berteduh dari panas dan hujan. Yang penting cukup. Persis seperti songkoknya yang usang, blangkonnya yang pudar, sabuknya yang dari tali rafia. Itulah inti hidupnya.

Labels:

 
posted by tc-a at 9:09 AM | 0 comments
Sunday, January 11, 2009
Aku punya seorang teman nge-game Tantra. Orangnya sangat periang. Suka memberi, suka bercanda. Semuanya menyukai dia.

Dia termasuk pemain lama game online Tantra, namun berhenti saat karakternya di game banned by the publisher dengan tuduhan memanfaatkan bug/cheat. Dia main lagi karena melarikan diri dari masalah yang melandanya: tragedi cinta!

Ketika itu persiapan pernikahannya dengan gadis tercinta telah disiapkan, hari-H telah ditentukan, undangan pun telah disebar. Namun menjelang resepsi, tiba-tiba terjadi geger tak terduga, calon mempelai wanita kabur entah ke mana bersama lelaki lain!

Pada saat itu dia tengah mengalami krisis di perusahaannya, dan kini ditambah kejadian yang sangat memukul jiwanya. Usaha bangkrut, cinta hilang. Persis pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Apalagi yang harus dia lakukan selain melarikan diri dari masalah. Perusahaannya dia tutup, dan dengan uang tersisa dia pakai nge-game setiap hari.

Bermain game online tentu bisa menjadi pelarian diri sementara dengan bersenang-senang bersama teman-teman dunia maya. Namun sebenarnya game juga merupakan masalah tersendiri. Kalau membiarkan diri larut di dalamnya, bisa kecanduan.

Tentu dia takkan membiarkan dirinya semakin tenggelam, mengatasi masalah dengan masalah. Beruntung orang tuanya selalu menasehati. Dia pun berhenti nge-game, lalu iku sebuah usaha multi-level marketing (MLM).

Terakhir ini aku menghubunginya untuk mengajaknya sesekali bermain game kembali. Aku sebenarnya sudah berhenti main game. Aku mengajaknya lebih karena karena aku di sini juga merasakan kegelisahan untuk mengisi sisa hidup. Namun dia bilang dia sekarang berada di pelosok Wonogiri yang jarang ada koneksi internet bekerja menjadi tukang foto pre-wedding. Aku menanyakan bagaimana usaha MLM-nya. Bisa ditebak, banyak kesulitan untuk mengembangkan usaha semacam itu di masyarakat yang semakin melek globalisasi ini. Akhirnya, dia bilang, gagal dan bangkrut.

Aku sangat bersedih memikirkan nasibnya, entah kenapa aku sangat bersedih sampai menangis. Aku menangis membayangkan seorang yang punya perusahaan sendiri lalu menjadi tukang foto keliling. Ternyata tak seburuk itu. Dia ikut temannya dan dipercayai memimpin sebuah cabang toko fotografi di sana.

Namun ada yang lebih mengejutkanku. Ketika aku bilang padanya, ”Ya udah Bro, semoga usahamu sukses. Meskipun kita berbeda menyebutnya, yang kita maksud adalah sama, yaitu Tuhan yang menciptakan kita. Kalau Dia benar-benar ada, tentu Dia mendengar. Amin. Aku sendiri masih mencari tuhanku yang hilang.”

Jawabannya lebih mengejutkan, ”Alhamdulillah bos. Aku masuk islam. Doaku selalu dijawab allah. Beneran.”

Aku terbengong-bengong, ”Lho, perasaan natal barusan kamu merayakan dengan mendengarkan firman tuhan?”

”Aku ga fanatik agama bos. Empat bulan yang lalu aku belajar islam di pekalongan, tapi ga pernah sholat. Dulu masuk kristen, yang ada cma cobaan melulu. Kalo islam terkabul terus.”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Semua nampak konyol: semudah itukah doa-doa terkabul?

Ada haru, ada geli. Adakah yang bisa membayangkan perasaanku?

” Maenin karakter game-ku donk boz. Ntar kalo aku sudah sukses, pasti aku main lagi. Huehuehue.”

Dan adakah yang bisa membayangkan keoptimisan dengan keriangan seperti itu? Dia seperti paham intisari ”Walaa tai asu” walaupun mungkin dia tak pernah membacanya. Aku kembali membisu. Jujur, aku salut, Bro!

Aku yang selama ini tidak punya ambisi untuk hidup kaya, tiba-tiba saja ingin menjadi orang kaya, agar bisa menyelamatkan bakat orang-orang istimewa di sekitarku seperti temanku itu, dan bisa membantu orang susah yang harus membanting tulang untuk hidup, orang terlilit utang, orang yang membutuhkan uluran tangan.

Di fajar shadiq dini hari begini katanya doa mudah terkabul. Suara lantunan Qur’an dari masjid-masjid mengajak untuk lebih khusyuk. Namun aku sudah terkapar lelah dan mengantuk.

Labels:

 
posted by tc-a at 1:07 PM | 1 comments
Friday, January 09, 2009
Temanku baru saja married dengan orang Cianjur, suku Sunda. Maka, muncul lagi hal-hal konyol tentang Jawa vs Sunda dalam ingatanku.

Salah satunya pengalamanku sendiri, pada saat mengikuti diklat-diklat ke Cianjur, aku sering ditanyai, ”Kapan pulang ke Jawa?”

Ketika aku mendapat pertanyaan ini pertama kali, aku sangat bingung. Jelas saya berada di Jawa, kok ditanyai kapan pulangnya ke Jawa. Aku merasa pertanyaan ini menjadi sangat rasial.

Ada yang menengahi, itu adalah gaya bahasa penggunaan majas totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan dengan maksud menunjuk pada sebagian. Jawa di situ maksudnya Jawa Timur. Misalnya dalam kalimat: Cina mengalahkan Indonesia dalam babak final perebutan Piala Thomas. Indonesia sebenarnya merujuk pada tim bulutangkis Indonesia, bukan seluruh negara Indonesia. Demikian juga halnya dengan kata Cina dalam kalimat itu.

Yang mengganggu adalah ketika yang memakai majas itu adalah bagian dari keseluruhan itu sendiri tapi seperti tidak mengakui kalau dia adalah bagiannya.

Dalam konteks contoh majas yang menurutku salah kaprah di atas, dapat disamakan dengan dua orang Indonesia asli yang berada di pulau Madura. Yang satu dari Jawa, yang satu asli Madura. Orang Madura itu bertanya pada dari temannya yang Jawa, ”Kapan pulang ke Indonesia?” Di sini, saya tak bisa memaklumi penggunaan majas totem pro parte dalam konteks seperti itu.

Seharusnya, yang lebih tepat dia gunakan adalah ”Kapan pulang ke Jawa?”
Di sinilah konteks ”Jawa” bisa dipahami.

Ndilalah, ada apologi untuk itu.

Kata orang Sunda, yang lebih dahulu memakai majas totem pro parte dengan kata ”Jawa” adalah pembantu-pembantu mereka dari suku Jawa yang tiap kali pamit pulang, mereka bilang ”Saya mau pulang ke Jawa, Den.”

Katanya, mereka menggunakan majas itu untuk menjaga gengsi dengan mengambil istilah yang umum karena mereka malu kalau harus menyebut langsung daerah asli mereka yang lebih terpencil. Hal itu bisa disamakan dengan orang lebih menyukai menyebut ”Saya berasal dari Malang” dari pada ”Saya berasal dari desa Poncokusumo” meskipun desa Poncokusumo adalah bagian Malang juga.

Alasan ini bisa jadi benar. Namun, bicara masalah siapa yang lebih dahulu itu seperti berdebat tentang ayam dan telur. Yang lebih kritis lagi, jika itu benar, bukankah alasan orang Sunda itu malah lebih rasial dan bernada merendahkan? (pembantu mereka Jawa yang sok jaga gengsi).

Kata orang Jawa, hal itu disebabkan efek psikologis perang Bubat. Karena raja Pajajaran dan putrinya dibunuh oleh orang Mahapahit, orang Sunda menjadi dendam temurun sehingga tidak mau lagi disebut sebagai bagian dari Jawa. Sampai-sampai, nggak ada nama jalan Gajah Mada atau jalan Hayam Wuruk di Bandung.

Aku sendiri tak tahu mana yang benar. Di sinilah sebenarnya kegunaan sejarah menjadi signifikan.

Namun, mungkin suatu saat, akan ada verifikasi lain. Karena seperti kita ketahui, sejarah adalah milik para pemenang.

Labels:

 
posted by tc-a at 2:34 PM | 1 comments
Wednesday, December 24, 2008
Ada komentar dari seseorang mengenai pikiranku yang sedang melayang ini: “Menjadi orang mapan bisa berpikir macam-macam, kalau jadi orang miskin memikirkan bagaimana mengisi perut saja susah.”

Begitulah sebenarnya. Dan yang lebih benar lagi, sebenarnya aku ini termasuk orang yang tidak neko-neko. Lebih tepatnya, aku termasuk pemain aman yang gampang puas, yang memenuhi pepatah: “Orang yang takut berbuat salah atau dosa, biasanya tidak berbuat apa-apa dan dia bukan apa-apa (he is nothing).”

Kalau ada pengangguran yang benar-benar sukarela menganggur, maka seringkali salah satunya adalah aku.

Dan juga ketika kutengok sekitarku, aku menjadi orang yang paling gampang heran melihat tingkah-tingkah beragam karena “penyakit” manusia itu: tidak gampang puas.

Padahal, dari titik inilah ambisi, kreasi dan inovasi muncul.

Kalau tidak ada kreasi, bagaimana istilah “komputer kanibal” bisa muncul di kantorku? Itu komputer yang dibuat dari komponen-komponen rongsokan komputer yang sudah tidak terpakai lagi dianggurkan di gudang, Maka, jangan heran kalau lab sejarah bisa membuat akuarium dan lab ekonomi bisa menciptakan lampu dim sepeda motor yang dibuat dari puluhan lampu led kecil. Kalau suatu saat kamu mendapati sekitarmu penuh dengan hal-hal baru, termasuk pemikiran nyleneh, karena itu hanyalah secuil dari keliaran jiwa manusia.

Memikirkan itu, aku teringat definisi Fillmore mengenai motives, drives, dan needs. Menurutnya, motivasi adalah suatu kondisi atau kekuatan dorongan yang menggerakkan organisme untuk mencapai tujuan tertentu atau segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya kekuatan untuk bertindak/berbuat. Drives dikonotasikan sebagai dorongan yang berkaitan dengan kebutuhan dasar sedangkan needs adalah dorongan yang berkaitan dengan kurang terpenuhinya kebutuhan biologis. Motif, digunakan untuk dorongan selain drives dan needs.

Bisa jadi begitu! Misalnya Maslow, mengatakan bahwa motif ini menggerakkan manusia untuk memenuhi kebutuhan fisiologis: security, sosial, pengakuan dan kepuasan. Atau menurut McClelland, bahwa di dalam jiwa manusia terdapat virus mental yang dinamakan need for achievement untuk melakukan kegiatan ke arah yang lebih baik, efisien dan gemilang. Atau Freud bahwa semua itu adalah dorongan insting hidup (mencintai, mencipta) dan insting mati (merusak, membenci, menghancurkan).

Maka, ada orang yang harus berjuang untuk memenuhi motif dasarnya, biological drive-nya (makan, minum sehari-hari). Di satu sisi, orang-orang lain ada yang memenuhi motif sosialnya. Dan, biarlah kusebutkan di sini supaya aku sendiri dapat mengingatnya.

Antara lain, pertama seperti ini: menampilkan sebuah blog seperti ini lebih merupakan motif mendapat recognition daripada sebuah narcissism. Kedua, jika Anda sering menolong orang lain memperbaiki komputernya, atau rajin bekerja, atau menepati janji, mungkin Anda sedang memenuhi motif untuk dibutuhkan yang membuat seseorang cenderung berbuat baik,. Ketiga, ada motif memperoleh perlakuan dan penghargaan yang sama. Selanjutnya, ada motif untuk berorganisasi yaitu keinginan untuk hidup bersama dengan orang lain atau oleh orang sosiologi disebut zoon politikon. Jika kamu berusaha keras menghimpun kekayaan, boleh jadi kamu terdorong motif memperoleh status sosial. Ketika temanku lebih suka meresapi sastra Kawruh Begja-nya Ki Ageng Surya Mentaram daripada ngaji Al-Quran, boleh jadi dia mempunyai motif sosial yang berhubungan dengan value system. Ada lagi motif obyektif yang ditujukan secara efektif dengan lingkungan, di antaranya adalah eksplorasi (memperoleh kebenaran obyektif), manipulasi (memanfaatkan lingkungan), interest (pemusatan mental pada tugas obyektif). Bukankah yang terakhir ini sebelumnya sering terdengar sebagai hal negatif?

Ketika menulis ini, secara aneh aku kembali kepada pelajaran kuliahku yang dulu sama sekali tak kusenangi dan kuperhatikan. Tergiring perlahan tapi pasti. Di sinilah letak beda alim dan awam. Antara belum tau dan tahu. Alhamdulillah, hari ini aku bisa maklum.

Labels:

 
posted by tc-a at 7:13 AM | 3 comments
Thursday, December 18, 2008
Dulu kubayangkan Amerika Serikat itu negara yang super power yang paling hebat dan tak bisa tergoyahkan oleh apapun. Namun hari ini kita menjadi saksi kegoncangan perekonomiannya.

Dulu, kukira demokrasi itu suatu sistem terbaik untuk menyelenggarakan suatu negara agar bisa adil, makmur, dan sejahtera. Namun, rasanya itu hanya menjadi sifat-sifat Utopia-nya Thomas More.

Dulu sekali, jauh sebelum aku memikirkan kedua hal di atas,aku meyakini ada agama terbaik yang bisa menjadi panutan dan pembimbing ke arah yang ideal. Semakin ku pelajari sejarahnya, semua semakin dikaburkan oleh pembunuhan-pembunuhan mengerikan bahkan sejak dari jaman terdekat munculnya agama itu. Lalu manakah yang sempurna?

Bukankah akhirnya kesempurnaan itu ditunjukkan oleh perilaku masing-masing individu?
Yang menghormati orang lain, tidak pernah menyakiti, itulah sempurnanya perilaku.

Ada cerita pada suatu ketika, seorang temanku memperoleh nilai C pada pelajaran Agama gara-gara pertanyaan tentang kesempurnaan sebuah agama. Kira-kira dia berpikir agama itu hanya sebuah cara untuk mencapai tujuan. Dan cara masing-masing orang berbeda. Sayang, guru tak mau tahu perspektif yang berbeda ini.

Kasihan dia (Kami berdua menertawakan peristiwa itu). tapi, aku tertawa sebenarnya bukan pada nilai C-nya itu. Tapi pada nalarnya berpikir temanku yang lucu.

Dia mempertahankan sesuatu dengan mempercayai bahwa untuk mencapai tujuan, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Anehnya dia sendiri sedang melupakan tujuannya saat itu. Tujuannya agar mendapatkan nilai A, tapi dia menafikkan kemungkinan mendapat nilai itu dengan mempertahankan hanya satu cara. Kalaulah memperoleh nilai A itu bukan tujuan utama, bukankah tujuan utama belajar (memperoleh pengetahuan hakiki) sudah dia peroleh sendiri dengan apa yang telah dia simpulkan! Jadi, tujuan sekunder: memperoleh nilai, adalah yang seharusnya dia raih. Pantaslah dia mendapat nilai C.

Sialnya, hari ini aku kualat. Ketika dia telah lihai dengan urusan hubungan cara-tujuan ini, aku justru masih berkutat berlarut-larut dengan ketololanku. Mempertahankan sesuatu yang telah kudapat dengan resiko kehilangan tujuan yang lain. Dilema yang dialami temanku pada waktu kuliah dulu, kini kualami waktu bekerja, dan kami berdua kembali menertawakannya.

However, kami berdua tetap memperoleh yang sejati. Seperti dia bilang, niteni macem-macem rasa lan sasmita, dari situlah kita belajar.

Labels: ,

 
posted by tc-a at 11:47 AM | 2 comments