||   What You Give Is What You Will Get...
Friday, November 21, 2008
Gusti, Kula bosen dengerkan khotbah Jumat itu. Dari dulu isinya ndak berubah. Itu-itu saja. Sperti kaset yang diputer berulang-ulang. Walaupun nadanya bermacam-macam. Ada yang seperti anak kecil baru belajar membaca, ada yang seperti orang teriak-teriak, khotbah atau marah-marah? Tetap saja membuat ngantuk. Saya mau tidur saja.

Gusti, sudah beberapa orang di kantorku belakangan ini menanyai Aku, kenapa Aku jarang mengunjungi bangunan di tengah kanto yang gunanya buat menyembah-Mu itu. Ada yang tanya juga, kapan shalatnya kalau di depan komputer terus?

Saya jawab Saya sudah ndak pernah shalat. Maksud Saya mau jujur. Malah Saya dikhotbahi persis seperti khotbah Jumat begini. Mungkin dia belum tahu maksud kejujuran. Atau ndak menghargai kejujuran Saya. Atau lebih suka dengan kebohongan tentang yang baik-baik.

Saya ingin bilang Saya belum bisa menyukai shalat. Hati Saya lagi mati. Toh Saya bukan orang jahat. Kalo Saya istirahat yang marah seharusnya Engkau Gusti, bukan mereka yang keberatan. Saya ndak menyembah mereka. Mata manusia banyak salahnya, mata kalbu nur-Mu dibutakan mata duniawi ini.

Gusti saya sedang menapaki jalan yang Engkau beri. Kalau saya salah ambil jalan, itu karena Saya ndak punya keberanian memberontak jalan-jalan sesat itu.

Kapan manusia seperti Aku Kau beri power untuk itu? Kenapa justru kepengecutan? Kenapa malah Kau beri kecintaan pada dunia yang membuatku takut?

Untuk mengenal pasangan yang Kau janjikan saja pun tidak ada nyali. Gusti, Aku ini sedang bertanya, bukan sedang protes. Kalau prang protes itu kan menjengkelkan.

Ada temanku seorang dokter, suka mengeluh saja. Temenku satunya tanya, kenapa ndak cari istri atau pacar? Haha, dia ndak tau kalau aku kadang malam-malam kedinginan fisik dan jiwa. Gelisah. Lalu Aku keluar duduk menengadah ke atas, memandang langit, merenung. Lalu kuhirup udara dalam-dalam, mencoba bersyukur, sampai lega.

”Ndak dapat kerja stress, dapat kerja banyak protes. Ndak punya pasangan seperti aku bingung, dapat istri tidak punya anak tambah bingung. Yang punya banyak anak pun juga bingung.

Kadang aku jengkel dan tertawa melihat semua ini. Tapi rasanya inilah inti kebahagiaan: bisa menikmati hidup!

Semua keresahan ini karena rasa kurang dan kurang. Ketidakpuasan membuat banyak yang membabi buta dan sengsara.

Cobalah sesekali minum kopi sendiri. Pandang dunia. Lihat kesibukannya. Lalu tertawailah dan kutuklah. Jangan ke orang lain. Cukuplah untukmu sendiri. Buat pelajaran hidup. Saat itu kamu tak akan bosan-bosannya, dan tersadar, surga itu ada!


Tetapi, janganlah heran kalau ada orang bertanya bagaimana sampai tidak bosan? Mereka tentu belum sampai ke sana.

Labels:

 
posted by tc-a at 1:03 PM |


0 Comments: